Saya mendapat pertanyaan seperti itu dari calon pengguna.

Artikel kali ini banyak external link yang saya sertakan untuk menambah informasi kita semua.

Pembuat tool keamanan, berkejaran waktu dengan penjahat cyber, kita membuat pengaman, mereka berusaha membobol.

 

Menurut Bitdefender Lab, sehari bisa muncul 400,000 varian malware baru dan 99% yang hanya terlihat sekali, sebelum mereka dimodikasi.

Sejauh ini, tidak ada pembuat tool keamanan yang menyatakan diri bahwa mampu melindungi sistem 100% sepanjang waktu.

mengapa bitdefender

 

Bitdefender sendiri, hanya menyatakan mampu menghadapi > 99% serangan, walaupun memiliki coverage tertinggi di Mitre Attack dan ada kurun waktu di mana kita bisa mengatasi 100%.

 

Bitdefender juga memiliki solusi Managed Detection and Response dengan on cloud console, di mana SOC di Romania dan di Amerika Serikat akan memantau 24/7 dan melakukan threat hunting pada sistem kita, untuk perusahaan dengan minimum 200 endpoint.

MDR

 

Apakah perusahaan kita perlu menggunakan MDR?

Jaminan Serangan Cyber

Biasanya, untuk menjawab pertanyaan seperti ini, kami sarankan perusahaan mengambil premi asuransi cyber.

Memang di Indonesia belum banyak yang menggunakannya dan preminya masih relatif cukup tinggi.

Juga, di laman perusahaan – perusahaan asuransi tersebut, belum ada kalkulator untuk menghitung biaya premi secara otomatis.

Di negara lain, bahkan untuk komputer perorangan pun, ada asuransi cyber nya.

Biaya premi yang kita keluarkan dan jaminan yang kita dapat tergantung dari perlindungan apa yang kita ambil, sama seperti asuransi kendaraan, premi TLO tentu beda dengan all risk, bukan?

Tentu saja, walaupun sudah mempunyai polis asuransi, kita juga harus memperkuat sistem keamanan kita.

Oya, perusahaan asuransi cyber juga tidak lepas dari incaran penjahat kriminal.

 

Menurut laporan ESI Thoughtlab, 65% dari perusahaan kecil – menengah dan 58% perusahaan besar akan meningkatkan biaya asuransi cyber.

Laporan tersebut juga menyatakan, 45% dari perusahaan menyadari bisa terkena kebocoran data, terutama karena masalah keamanan dasar seperti multi-factor authentication (MFA) dan kelalaian karyawan sendiri.

Riset terbaru menyatakan bahwa perusahaan kecil dan menengah memang siap menghadapi serangan cyber, tapi menganggap remeh jangka waktu pemulihan sistem.

Biaya terbesar di belakang kehilangan akibat serangan cyber adalah business interuption, sekitar 60% berdasar hasil analisa asuransi, termasuk kebocoran data.

Walaupun, serangan ransomware memimpin sebagai klaim asuransi cyber terbesar di tahun 2020, apalagi sejak pandemi Covid-19.

Banyak asuransi yang juga mempunyai pertanggungan untuk membayar tebusan ransomware, tapi dengan makin maraknya serangan seperti itu, beberapa asuransi sudah memutuskan tidak ada lagi polis untuk tebusan ransomware.